Social Icons

Danamaya-WisataDarma-TwitterTamu Wisata Darma 2014-Facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
PageRank Checkerblog-indonesia.com

Saturday, March 27, 2010

Linggarjati (masih) Terus Bicara

Napak Tilas Bukti Sejarah Perjuangan Bangsa dan Agama


SEJARAH abadi karena ada pengenangnya. Monumen ataupun penulisan runtutan kejadian hanyalah bagian dari proses pengabadian sejarah itu sendiri. Seberapa lama sejarah itu akan abadi, bukan tergantung pada pelakunya tetapi pada penikmatnya. Kalaupun sang pelaku sejarah masih menjadi bagian dari penikmat, itu merupakan proses pengabadian sejarah yang pernah tercipta olehnya.
Apakah sejarah bisa terulang? Bisa saja. Perbedaannya terletak pada pelaku dan waktu. Sejarah memang bisa tercipta dimana saja dan kapan saja. Tetapi dipilihnya salah satu tempat tertentu pasti punya makna tertentu pula. Dipihnya tempat kejadian akan menunjukkan jati diri daerah tersebut.

Kuningan tidak hanya memiliki sumber daya alam yang potensial. Tapi juga memiliki sejarah. Sejarah yang sangat patut dikenang tentunya. Perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya di masa sebelum proklamasi. Tetapi setelah itu pun masih banyak perjuangan panjang yang digelorakan anak-anak negeri. Terutama perjuangan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional dan pengakuan dari negara penjajah atas kemerdekaan yang telah diproklamasikan bangsa Indonesia.
Salah satu bentuk perjuangan itu adalah perundingan. Banyak tempat-tempat perundingan di Indonesia di masa perjuangan yang kemudian dicatat menjadi tempat bersejarah yang sangat penting. Di tempat itu ada tanda sejarah  yang tidak hanya disimbolkan dengan bertenggernya monumen atau simbol-simbol kesejarahan dalam bentuk fisik, tetapi juga cerita dan kisah menarik yang dituturkan orang sepanjang zaman.  

Linggarjati, merupakan salah satu wilayah di Kuningan yang mempunyai peran penting dalam sejarah Islam, Indonesia dan Dunia. Di Desa linggarjati inilah, perundingan besar antara bangsa Indonesia dan Belanda sebagai penjajah pernah dilakukan. Kita kerap menyebutnya sebagai Perundingan Linggarjati yang digelar 10-13 November 1946. Bagaimana sampai Desa Linggarjati Kec. Cilimus Kab. Kuningan menjadi tempat pertemuan dan perundingan, jejak sejarah itu masih bisa kita telusuri. Tentu sangat menarik mengikuti jejaknya.  

Linggajati dan Peran Wali

Sejarah Desa Linggarjati dimulai pada masa abat ke-15 Masehi. Karena letaknya di kaki Gunung Ciremai, maka tempat ini menjadi daerah yang beriklim sejuk dan subur.
Menurut sejumlah informasi yang dihimpun Fokus, pada zaman para wali (yang sekarang kita kenal sebagai walisongo) Gunung Ciremai yang dulunya bernama Gunung Gede sering dipakai untuk pertemuan dan musyawarah. Sebenarnya namanya bukan Ciremai tapi cereme yang artinya perundingan wali-wali. Kemudian di masa penjajahan Belanda nama cereme disebut Ciremai. Di tempat ini sering diadakan pertemuan para wali untuk merundingkan dan merumuskan penyebaran agama Islam.

Juru Pelihara (Jupel) Gedung Naskah Linggarjati, Djudi, menyebutkan membicarakan sejarah Linggarjati tak bisa dipisahkan dengan sejarah perkembangan Islam yang digagas dan dilaksanakan oleh para wali, khususnya Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah. “Ini merupakan tempat istimewa karenanya,” ujar Djudi kepada Fokus, Senin pekan lalu.    
Sedangkan nama Linggarjati (sebenarnya konon awalnya bernama Linggajati) sendiri muncul dari beberapa pendapat. Desa ini dulunya sering dijadikan tempat peristirahatan Sunan Gunung Jati. 

Sunan Kalijaga berpendapat “lingga” yang artinya linggih (bahasa Jawa, duduk atau tinggal, bahasa Indonesia). Tiap wali yang hadir dalam musyawarah, memiliki pemaknaan yang berbeda. Menurut Sunan Bonang nama Linggajati adalah tempa awal Sunan Gunung Jati melakukan pendakian ke Gunung Gede setelah beristirahat.
Peninggalan sejarah aktivitas para wali adalah dua tempat batu yang diperkirakan dijadikan tempat beristirahat dan bermusyawarah. Letaknya di sebelah selatan Balai Desa Linggarjati, dan yang satunya berada di pertengahan jalan menuju puncak Gunung Ciremai.

Riwayat Gedung Perundingan Linggarjati

Sejarah gedung yang kemudian akrab disebut Gedung Naskah (Perundingan) Linggarjati, Djudi sebagaimana juga tertulis  dalam handbook tentang Perundingan Linggarjati, bermula dari seorang perempuan bernama Jasitem. Tepatnya tahun 1918 di Desa Linggarjati berdirilah sebuah gubug. Kemudian pada tahun 1930 oleh seorang Indo-Belanda bernama Tersana,  bangunan tersebut dibuat semi permanen.
Barulah pada tahun 1930 bangunan gedung dibuat permanen oleh bangsawan Belanda bernama Van Ost Dome dan dijadikan tempat tinggal. Lima tahun kemudian gedung tersebut dikontrak oleh seorang bangsawan Belanda juga, yang kemudian diubah menjadi sebuah hotel bernama Rustoord.

Di tahun 1942, semasa penjajahan Jepang gedung tersebut masih difungsikan sebagai hotel, hanya namanya diganti menjadi Hokay Ryokon. Tahun 1945 Setelah jepang angkat kaki dari Indonesia karena kalah perang dengan sekutu dan bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan, hotel ini menjadi milik Indonesia dan diberi nama Hotel Merdeka.
Di sinilah awal terjadinya perundingan yang dikenal dan dikenang sebagai Perundingan Linggarjati. Tapi pada tahun 1948 sampai 1950-an gedung ini kembali dikuasai Belanda dan dijadikan markas tentaranya. Baru setelah Belanda hengkang dari bumi Indonesia tahun 1950 gedung ini dijadikan tempat sekolah hampir kurang lebih 25 tahunan.

Semasa Bung Hatta masih hidup, ia sempat berkunjung ke Linggarjati bersama Ibu Syahrir. Beliau menyampaikan kepada masyarakat Kuningan bahwa gedung tersebut akan dipugar oleh Pertamina dan sekolah yang ada direlokasi ke tempat lain yang tak jauh dari lokasi tersebut. Baru setelah sekolah jadi, gedung ini resmi diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Memorial. Hingga sekarang gedung tersebut dikenal dan dikenang masyarakat luas sebagai Gedung Naskah Linggarjati.

Masih Terasa Kental

Bagaimana kondisi fisik gedung tersebut sekarang? Saat Fokus menyempatkan diri menelusuri seluruh sudut-sudut ruangan dan lingkungan sekitar di dalam dan luar gedung, suasana bernuansa perjuangan masih terasa kental.
Meski dari semua benda bersejarah yang ada hanya 25% yang asli (sedangkan sisanya adalah duplikat)  tetapi tidak mengurangi nilai sejarahnya. Hampir di seluruh dinding gedung terpampang potret sejarah setiap perundingan yang pernah dilakukan. Baik dari Jakarta dan tempat lain sampai Linggarjati sendiri. Posisi kursi dan meja perundingan tertata rapi dan berwibawa.

Sayang memang, masih ada sedikit ketidakterawatan di beberapa sudut ruangan. Di antaranya kamar mandi dan ruang makan. Di bagian kamar tidur juga belum tertata rapi. Bahkan ada beberapa pintu kamar mandi tidak bisa dibuka, dan pintu keluar samping tidak ada kuncinya.
Menurut penuturan Djudi, keadaan itu sudah disampaikan ke Balai Taman Purbakala yang mengurusi benda-benda sejarah. Menurutnya, untuk kebutuhan perawatan sehari-hari, ada dana yang terkumpul dari  pengunjung yang mencapai 4 ribu sampai 5 ribu orang sebulan bila dirata-rata (mereka datang sebagai pengunjung biasa, pengunjung pendidikan baik dalam maupun luar negeri).

Di antara kebutuhan gedung tersebut adalah pengecatan, perbaikan lampu-lampu yang rusak serta perbaikan kecil yang sifatnya insidentil. Sedang untuk renovasi dan perbaikan lingkungan taman yang sekarang sudah kelihatan lebih tertata, pihak pengelola tinggal memberikan informasi ke balai pengelola benda-benda bersejarah. Setelah informasi diterima pihak pengelola tidak tahu menahu lagi masalah pengerjaan dan berapa jumlah dana yang dibutuhkan. Pihak pengelola selanjutnya tinggal merawatnya.
Bukti sejarah masih ada. Itu semua adalah tanggungjawab kita untuk merawat, melindungi dan melestarikannya. Idr/fokus 

1 comment:

  1. Jangan cuma gedung atau bangunan lainnya yang ramah lingkungan. Tetapi pola hidup masyarakat juga harus berubah. Contohnya meminimalisirkan penggunaan produk yang terbuat dari plastik.

    Contoh, penggunaan Kemasan makanan yang terbuat dari kertas. Kertas dapat berbaur dengan lingkungan. Artinya kertas merupakan bahan yang ramah lingkungan.

    ReplyDelete

 

MANAGER UNIT
Obyek Wisata Wadukdarma
HP : 087 723 302 220
Head office - Telp./Fax :
(0232) 8881389

 
Kawasan Wisata Alternatif Tujuan Liburan Anda di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat - Indonesia 45562, dikelola pihak PDAU Kabupaten sejak Januari 2012