Social Icons

Danamaya-WisataDarma-TwitterTamu Wisata Darma 2014-Facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
PageRank Checkerblog-indonesia.com

Wednesday, April 7, 2010

Lebaran Tanpa Mercon

“MERCON” (petasan) adalah sesosok benda yang ditakuti, dibenci tapi juga dipuja, digandrungi dan dirindukan. Suatu perayaan (khitanan, pernikahan, lebaran dll) kadang serasa belum afdhal tanpa rentetan bunyi petasan. Apalgi di penghujung Romadhon, kuantitasnya serasa bertambah. Lokasi bendungan pun setelah Jalan Lingkar Wadukdarma difungsikan, menjadi tempat yg dianggap strategis untuk lokasi penyulutan petasan dan peluncuran kembang api.


Besarnya pengaruh petasan bagi kemeriahan sebuah perayaan (keagamaan) adalah pertanda yang jelas betapa kompleksnya penghayatan agama yang terjadi di tengah masyarakat kita. Sesuatu yang nampak sangat ukhrawi (akhirat banget) dan kudus ditinjau dari pandangan ubudiah antara hamba dan Tuhannya, ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat duniawi (dunia banget).


Entah bagaimana dan mulai kapan proses “evolusi” keagamaan ini terjadi. Yang pasti di sela-sela ritual keagamaan (atau yang hanya mengatasnamakan agama) selalu (hampir) pasti diwarnai dan dimanfaatkan untuk mencari keuntungan dari Para Pencari Tuhan (meminjam istilah dari judul sinetron yang lagi in) tsb.
Semangat ibadah untuk mencari kedamaian dan kebahagiaan hakiki akhirnya banyak dimanfaatkan oleh mereka yang menawarkan jasa dan barang untuk kebutuhan “Para Pencari Tuhan” itu.


Lihatlah para penjual bunga, kemenyan dan tasbeh yang berjejer di pintu-pintu makam keramat, menjamurnya jasa bimbingan untuk para calon haji yang memang bermanfaat bagi umat yang masih awam pada tatacara dan manasik haji yang sebagian diikuti juga dengan penawaran jasa akomodasi, transportasi, guide untuk ziarah di Tanah Suci bahkan merambah pada aksesori haji lainnya semacam sajadah, karpet, peci putih dan sorbannya. Tak ketinggalan juga perabotan rumah tangga yang (biasanya) serba berwarna emas semacam cangkir, piring kecil, teko, panci dll. Tidak cukup dengan aksesori haji tsb saja. Bahkan “Para Pencari Tuhan” itu juga ditawari hal-hal yang makin duniawi semacam obat kuat kadal mesir, minyak Fatima, sari rapet, tangkur onta, minyak kuda dll.


Jujurlah pada fenomena saat mempersiapkan penyambutan Hari Raya Idul Fitri, apa yang dipersiapkan dan dilakukakan: Isu sentral kala itu adalah baju, sarung, sandal, sepatu, tak ketinggalan nyiapin uang recehan yang bagus bahkan beberapa sibuk menyiapkan rencana piknik ke tempat-tempat hiburan, takbir keliling kampung atau kota yang tentu saja tak ketinggalan dihiasi dengan rentetan bunyi petasan yang biasanya mulai bergema sejak awal Ramadlan dan makin meningkat frekuensinya menjelang hari raya dan beberapa saat setelahnya.


Isu tentang hal-hal yang sangat duniawi tadi nyaris meneggelamkan isu serius yang harus menjadi perhatian dan bahan obrolan di penghujung Ramadlan itu semisal; urusan hati, i'tikaf, ketakwaan, laelatul-qadar, rahmah, magfirah dan itqum minannar. Dalam keadaan seperti itu maka dimensi agama berubah bentuk menjadi dimensi ekonomi, penyiapan lapangan dan panggung untuk shalat 'ied tak luput dari incaran para pencari keuntungan duniawi tsb. Hiruk pikuk lahiriyah kadang mengalahkan esensi keagamaannya itu sendiri.


Coba tengok berapa biaya pagelaran tablig akbar di alun-alun Kota Kuningan beberapa saat yang lalu? Mubalig kondangnya (sekarang sudah agak tidak kondang) diarak dengan delman yang dihias, transport (mubaligh)-nya puluhan juta rupiah, penanganan sampahnya saja sampai memakan biaya belasan juta rupiah. Yang aneh adalah biaya pengamanannya, sampai puluhan juta rupiah --ini lebih besar dari biaya pengamanan konser Slank dan Jamrud di kota yang sama. Setelah ditotal dengan biaya sewa soundsystem, panggung, promosi, konsumsi dll jumlahnya sangat fantastis, mencapai angka ratusan juta rupiah untuk sebuah pengajian yang hanya berlangsung tidak lebih dari satu jam. Uang sebanyak itu sesungguhnya bisa dipakai untuk membangun puluhan mushalla yang sudah hancur dan atau sebenarnya bisa untuk membantu fakir miskin untuk bisa terus sekolah atau sebagai modal usahanya.


Untunglah ternyata fenomena semacam itu tidak mutlak terjadi dimana-mana, karena ternyata di beberapa tempat masih bisa kita temukan peringatan maulid nabi yang sederhana dan khidmat dengan alunan pujian-pujian pada Baginda Nabi SAW. Di beberapa surau masih terlihat dipenuhi oleh yang ber-i'tikaf. Juga masih terlihat romantisme kesyahduan beribadah di pesantren-pesantren yang jauh dari hingar-bingar dan rekayasa dari para pencari keuntungan duniawi. Kalau saat ini kita bisa melakukan “lebaran tanpa mercon”, ke depan mungkin kita harus belajar membiasakan diri bagaimana lebaran tanpa baju baru, pengajian tanpa seragam, haji tanpa diawali “halal-bihalal” yang banyak menimbulkan riya dan kembali dari berhaji tidak saja membawa oleh-oleh tersebut di atas, tapi juga oleh-oleh hikmah dan pelajaran. Ada baiknya kalau kita berusahan untuk tetap menjaga hakikat ritual kegamaan dari tipu daya para pencari keuntungan. Taqabbalallah minna wa minkum, minal aidin walfaidzin.***  Powered by: Kang Yai

No comments:

Post a Comment

 

MANAGER UNIT
Obyek Wisata Wadukdarma
HP : 087 723 302 220
Head office - Telp./Fax :
(0232) 8881389

 
Kawasan Wisata Alternatif Tujuan Liburan Anda di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat - Indonesia 45562, dikelola pihak PDAU Kabupaten sejak Januari 2012