Social Icons

Danamaya-WisataDarma-TwitterTamu Wisata Darma 2014-Facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
PageRank Checkerblog-indonesia.com

Wednesday, April 7, 2010

Menengok Jejak Manusia Purba di Cipari

Batu-batu Bisu itu Rindu Sentuhan


BILA di Mojokerto (Jawa Timur) ada banyak ditemukan situs-situs penyimpan kerangka manusia purba, maka di Kuningan pun bisa Anda temukan situs penyimpan bukti sejarah kuno yang bisa “berbicara” banyak tentang kehidupan manusia di zaman purba. Benar memang di Kuningan, tepatnya di Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur, tak ditemukan kerangka manusia purba. Namun sejumlah benda purbakala yang menjadi bukti peradaban massa purba berhasil ditemukan, digali dan selanjutnya diamankan.


Sayang memang, keberadaan Taman Purbakala Cipari demikian situs itu dinamai-- keberadaannya kini sangat memprihatinkan. Situs yang pada tahun-tahun akhir 1970-an hingga awal-awal tahun 1980-an itu cukup memikat dan menjadi kebanggan Kota Kuningan itu kini sepi dan terkesan tak terawat dengan baik.


Ketika pada Rabu pekan lalu, Fokus menyambangi situs itu yang pertama ditemui adalah kesenyapan. Selanjutnya adalah nyanyi bisu batu-batu hitam yang berjejer memagari lokasi situs. Hanya ada sepasang muda-mudi yang terlihat “berdialog bisu” di hamparan sebuah batu besar di sebelah barat. Yakin, kedua pasangan itu tidak sedang merenungi apa bagaimana yang terjadi dengan nenek moyangnya ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu. Keduanya semata-mata sedang nguji wawanen ngomongkeun cinta.


Alhasil, taman purbakala itu ibarat sembunyi di kedalaman misteri benda-benda purba: Bisu yang panjang. Padahal di balik semua itu terdapat misteri dan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya bisa mengungkap tradisi kehidupan manusia pada zaman batu lengkap dengan segala mitologinya.
Koordinator Pengelola Taman Purbakala Cipari, Ruhiyat (43 tahun), mengakui situs yang diurusnya sepi pengunjung. “Pengunjung memang sepi. Banyak kendala yang menyebabkan situs ini memprihatinkan, dan karenanya pengunjung juga sangat sedikit yang datang berkunjung ke sini,” ungkap Ruhiyat.
Lelaki yang sebelumnya mengelola situs sejarah Gedung Naskah Linggarjati itu menyebut sedikitnya ada lima masalah yang harus menjadi perhatian pemerintah agar kembali bisa meningkatkan pamor situs purbakala di Cipari. Kelimanya adalah masalah tidak ringan karena melibatkan banyak kalangan untuk memperhatikannya dan juga dana yang tidak sedikit.


Pertama, katanya, masih kurangnya fasilitas jalan yang cukup nyaman bagi kepentingan pengunjung. “Jalan memang ada, tapi kurang bagus hingga ke lokasi situs. Ini harus diperhatikan,” katanya.
Lantas? Kedua, ujarnya, masih kurangnya petunjuk arah yang bisa memandu calon pengunjung atau menarik minat orang yang ingin mengetahui potensi wisata di Cipari. “Selanjutnya, kebutuhan air untuk pengunjung dan fasilitas ruangannya yang kurang nyaman. Ini harus diperbaiki, bila perlu dipindahkan sebelum kemudian ditata dengan baik,” katanya.
Yang tak kalah pentingnya juga, menurut Ruhiyat, pemerintah harus menggelar publikasi yang cukup besar baik dengan cara pembuatan billboard atau apalah namanya. Yang ada sekarang dianggapnya masih kurang. “Yang terakhir, harus diakui tempatnya memang kurang mendukung,” katanya seraya menyebut situs itu masih sangat minim mendapat dukungan dana baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Tentang apa yang diungkapkan Ruhiyat tampaknya tidak mengada-ada. Fakta lapangan menunjukkan memang taman purbakala itu membutuhkan sentuhan perbaikan atau renovasi yang tidak sedikit bagi tersedianya fasilitas pendukung.


Kisah Penemuan


Menurut Ruhiat, Situs Cipari sekarang lebih dikenal dengan Site Museum Taman Purbakala Cipari. Semula lokasi itu adalah tanah milik seorang warga setempat, Wijaya, dan beberapa warga setempat lainnya. Site ini bertengger di atas tanah seluas 7000 meter persegi.
Semula lokasi itu terkesan seperti tanah sawah dan kebun sebagaimana layaknya tanah di perkampungan. Pada permukaan tanahnya semula tidak tampak adanya monument-monumen maupun artefak yang bercirikan kepurbakalaan.
Pada tahun 1971, Wijaya menemukan jenis batuan yang mirip dengan batu yang pernah dipamerkan di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur. Informasi itu selanjutnya diteliti oleh P Djatikusumah dengan mengadakan penggalian percobaan. Hasilnya, ditemukanlah sebuah peti kubur batu, kapak batu, gelang batu dan gerabah.


Selanjutnya penemuan itu dilaporkan ke Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Jakarta. Seterusnya lembaga yang sama lantas mengadakan penelitian dan sejumlah proses penggalian. Tahun 1972 dilakukan penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan. Tahun 1975 dilakukan penggalian total. Pada tahun 1976 selanjutnya dilakukan pembangunan Site Museum Taman Purbakala Cipari dan pada tanggal 23 Februari 1978 site tersebut diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Syarif Thayeb.


Dua Kali Permukiman


Sirus Cipari diidentifikasi kepurbakalaannya dari sebuah peti kubur mati yang merupakan salahsatu cirri dari pengalaman hidup manusia prasejarah. Penelitian (eksvakasi) arkeologi secara simpatik dikerjakan di bawah pimpinan Teguh Asmar MA dari Direktorat Sejarah dan Purbakala Direktorat Jenderal Kebudayaan yang melakukan penggalian pada 1975 menghasilkan temuan perkakas batu perunggu dan gerabah dan berkas-berkas bangunan masa prasejarah.
Bertolak dari tipologi dan steatigrafi beserta kelompok temuannya, Situs Cipari diperkirakan pernah mengalami dua kali permukiman yaitu akhir neolitik dan awal pengenalan bahan perunggu yang berkisar pada tahun 1000 s/d 500 tahun sebelum Masehi. Pada masa itu manusia setempat telah mengenal bercocok tanam dan organisasi yang baik beserta kepercayaan nenek moyangnya dengan adat mendirikan batu-batu besar., masa megalit.


Disebutkan, dasar dari keseluruhan tradisi itu adalah kepercayaan akan adanya hubungan erat antara yang masih hidup dan yang telah mati, atas kesejahteraan manusia, ternak dan pertanian. Juga adanya keyakinan bahwa semua kebaikan atau tuah seseorang, kerabat yang telah mati dapat dipusatkan pada monument-monumen yang diisikan guna menjadi medium penghormatan, menjadi tahta kedatangan sekaligus menjadi lambing si mati.
Batu-batu menjadi pelindung tingkah baik seseorang. Pemusatannya pada suatu momen akan menambah kekayaan, mempertinggi kesejahteraan, derajat dan hasil cocok tanamnya. Alhasil, konsep masa depan mereka yang hidup di zaman itu adalah kekhususan yang telah didapat atau tidak (belum) didapatkan di dunia fana hanya akan dapat dicapai di akhirat dengan melihat perbuatan dan amal apa yang pernah dilakukan selama hidupnya di dunia. Bila mereka mati, maka mereka pun diberangkatkan.


Di situs tersebut terdapat sejumlah peninggalan purbakala yang menarik untuk dijadikan bahan penelitian sejarah kalangan akademisi atau mereka yang hanya mnyukai sejarah masa lalu manusia purba. Sejumlah barang temua hasil penggalian kini terseimpan di dalam museum, di antaranya adalah kapak batu, gelang batu, kapak perunggu, gelang perunggu, lumping batu, batu obsidian, hemalit, batu bahan, bulatan tanah, kendi, pendil, jembaran, kekeb, delepak (lampu), bokor, cangkir dan tempat sayur.
Sementara di luar museum juga terdapat sejumlah monumen. Jelas, monumen-monumen itu memiliki “cerita” menarik. Sedikitnya ada enam monumen, yakni peti kubur (insitu), altar batu (punden berundak), dolmen, batu temu gelang, menhir dan dakon.
Nah, siapa yang harus bertanggungjawab melestarikan dan menjaganya? Tentu kita. Apalagi pemerintah. rif/fokus

2 comments:

  1. wah jadi kangen nih... kira2 6 tahun yang lalu waktu saya masih sekolah MTs di HUSNUL KHOTIMAH, saya pernah ke cipari sendirian. seinget saya, waktu itu pokoknya ampe naek ojek dari pangkalan elp buat ke situs purbakala,gila abis dah, sepiiii banget!!! tp enak buat yang punya hobi nulis kayak ane, dlu ane juga di situ ampe ngerampungin 2 cerpen sama 1 puisi, ane di disitu ga kerasa ampe 5 jam. coz dari pagi. kenangan terindah emang waktu di kuningan, tempatnya asri, bersih, mata air di mana-mana, udah gitu penduduknya ramah2, coz waktu pulangnya karna ga ada ojek di dpan situs waktu itu(ga tau klo sekarang), akhirnya jalan niatnya sampe pangkalan ojek, eh tapi nyasar2, mampir nanya ke rumah warga buat nanya jalan, tapi bukan sekedar di kasih petunjuk ane di kasih makan sama di anterin sampe pangkalan elp. siiippp dah kota kuningan, ane kangen...

    ReplyDelete
  2. Ya begitulah budaya orang Timur (Ramah). Tapi bagaimana kitanya juga sih. Untung saja Aden tidak malu untuk bertanya. Coba kalau malu bertanya, pasti Aden jalan-jalan dan nyasar berkepanjangan tanpa bisa makan, gratis lagi, hehehe... dapat rezeki halal. Memang Kuningan sudah terkenal ke-asrian lingkungannya, dan memang mayoritas msh alami. Tiap masa ke masa ada perubahan termasuk di lingkungan situs Cipari yg dimaksudkan. Namun kita berharap adanya perubahan tsb jangan sampai memusnahkan keasrian, ke-alamian yg hijau dan segar buat kehidupan. Trim'as atas kunjungannya, sementara mungkin begitulah harapan saya (termasuk harapan kita semua) tentang lingkungan. Jangan lupa, bertanya dulu dengan ramah sebelum kesasar....! Ramah adalah budaya kita yg tidak boleh punah bin musnah. Hehehehe, ditunggu ya di Wadukdarma, dijamin kagak bakalan nyasar maning, Bos...!

    ReplyDelete

 

MANAGER UNIT
Obyek Wisata Wadukdarma
HP : 087 723 302 220
Head office - Telp./Fax :
(0232) 8881389

 
Kawasan Wisata Alternatif Tujuan Liburan Anda di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat - Indonesia 45562, dikelola pihak PDAU Kabupaten sejak Januari 2012