Social Icons

Danamaya-WisataDarma-TwitterTamu Wisata Darma 2014-Facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
PageRank Checkerblog-indonesia.com

Wednesday, April 7, 2010

Puasa: Membangun Tubuh dan Jiwa Baru

KangYai Mengaji
HAI orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa seperti telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertakwa. (al-Baqarah: 183)

Pengunjung "Wadukdarma" (Waduk Darma) yang budiman, "ayat" tersebut di atas mengisyaratkan bahwa kewajiban puasa adalah bukan hal yang baru. Puasa telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kita. Bahkan sepanjang sejarah, orang-orang suci dari berbgai agama dan para petapa telah menjadikan puasa sebagai sarana pemurnian yang membangun semangat. Puasa telah membawa para pelakunya pada suatu kondisi yang lebih tenang, jernih dan spiritualis.


Ada banyak sekali jenis dan macam puasa yang biasa dilakukan baik berdasarkan pada keyakinan keagamaan atau atas dasar kebudayaan leluhur. Dalam agama Kristen ada yang disebut puasa Paskah.
Kita mengenal puasa Nisfu Sya'ban, puasa Senin-Kamis dll, sampai puasa yang pelaksanaannya berdasar pada kepentingan medis untuk alasan pengobatan atau terapi. Atau bahkan ada yang menggunakannya untuk berdemo (mogok makan, misalnya).


"Puasa Ramadhan" (yang dimaksud dalam tulisan ini) adalah milik Allah, dan Dia akan memberikan pahala untuk yang melaksanakannya. “Semua amalan Bani Adam adalah untuknya, kecuali shaum (puasa), ia adalah milik-Ku, dan aku akan memberikan imbalan dengannya.” (al-Hadits).
Puasa sungguh sangat pribadi, hanya kita dan Allah. Puasa adalah sesuatu yang sangat private. Tidak ada yang tahu apakah seseorang itu sedang berpuasa kecuali dirinya dan Allah. Seseorang biasa saja mengaku sedang atau tidak sedang berpuasa, tapi itu tidak bisa menjamin kebenarannya. Bahkan penampilan lahir tidak bisa menjamin apapun. Jadi jangan aneh kalau lalu ada (oknum) “imam” shalat taraweh yang malah dirinya tidak berpuasa.


Penegasan Allah (lewat hadits di atas) bahwa setiap amalan Bani Adam (di luar puasa) adalah untuk (diri)-nya adalah bahwa kita harus bisa merasakan manfaat langsung dari setiap ibadah kita. Kita harus bisa memetik hikmah dari shalat, zakat dan ibadah haji kita. Kita mestinya tidak lagi mempertanyakan manfaat apa yang bisa kita rasakan dari puasa. Karena seyogyanya kita berpuasa hanya karena Allah, bukan karena agar kita sehat, agar jadi langsing, agar dapat jodoh atau alasan-alasan lainnya di luar (untuk) Allah. Bukan bermaksud untuk menebak-nebak alasan Allah mewajibkan puasa pada umatnya, seperti halnya kita menebak-nebak (jangan-jangan) alasan Allah melarang minum khamar (arak) adalah karena memabukkan? Atau seperti saat kita berprasangka pada alasan Allah mewajibkan zakat adalah untuk menghilangkan kemiskinan, kalau lalu ada sejenis penulusuran manfaat yang dirasa bagi para pelaku puasa.


Dalam Islam, puasa bukanlah semata-mata menahan diri dari makan dan minum. Puasa punya nilai lebih dari itu. Bahkan termasuk merugi jika yang didapat dari puasanya hanyalah lapar dan haus. Namun demikian bahwa menahan diri dari makan dan minum adalah langkah awal dari program me-refresh tubuh yang penuh racun ini, racun yang di antaranya ditimbulkan dari pola makan yang tidak teratur. Sering kita meletakkan makanan di atas makanan lain, dan meletakannya lagi di atas makan lain. Saat sarapan pagi yang kita makan diletakkan di atas makan malam yang kita makan kemarin. Kita salah dalam mengkombinasikan makanan. Kita seakan duduk di atas tumpukan kecil makanan yang belum tercerna.


Tubuh kita penuh dengan racun, sebagian memang ditimbulkan dari udara yang kotor, dari lingkungan pergaulan yang tidak sehat, dari apa yang kita tonton dan kita dengar. Tapi makanan dan cara makan adalah memang sumber racun yang signifikan. Karenanya kita seyogyanya memberikan liburan pada diri kita, pada pencernaan dan tubuh ini. Tak dapat dipungkiri bahwa banyak manfaat (untuk diri kita) dari puasa yang kita lakukan. Segala sesuatu terasa menjadi jernih dan terang. Dengan berpuasa, secara tanpa sadar kita tiba-tiba mampu berhenti dari kebiasaan (buruk) yang nyaris mustahil kita tinggalkan. Kita seakan punya kekuatan gaib untuk membersihkan diri dari semua “harus” dalam hidup kita. Kita menemukan kekuatan untuk membersihkan diri dari semua “ingin” yang tidak diperlukan. Juga kekuatan untuk membersihkan diri dari semua “takut”, membuang kemarahan lama dan menyapu semua kepedihan, segala luka jadi sembuh dan jiwa yang rapuh menjadi kuat.


Puasa (dalam arti menahan diri dari makan dan minum serta apa-apa yang membatalkannya) memberikan kesempatan kepada kita untuk membangun tubuh baru yang lebih sehat (lahir-bathin) dari dasar. Puasa melatih kita untuk melakukan teori “stop” di tengah pergumulan kehidupan yang nyaris tak berbentuk dan tak terdifinisikan. “Stop” adalah rambu untuk berhenti -hanya berhenti- tengok kiri kanan untuk lalu kita maju kembali, karenanya saat kita sudah tak tahu apa yang harus dilakukan, saat kita tak tahu lagi beda antara mana yang kita inginkan dan yang kita butuhkan, saat tak jelas lagi prioritas dalam kehidupan kita. Maka kenapa tidak kita menahan diri dan “stop” . Wallahu a'lam bishshawab.*** Powered by: Kang Yai

1 comment:

  1. terima kasih gan buat infonya.. sangat membantu sekali.. salam kenal dan sukses selalu..

    ReplyDelete

 

MANAGER UNIT
Obyek Wisata Wadukdarma
HP : 087 723 302 220
Head office - Telp./Fax :
(0232) 8881389

 
Kawasan Wisata Alternatif Tujuan Liburan Anda di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat - Indonesia 45562, dikelola pihak PDAU Kabupaten sejak Januari 2012