Tentang Wadukdarma dan Obyek Wisata - Wadukdarma Wisata

Social Icons

Danamaya-WisataDarma-TwitterTamu Wisata Darma 2014-Facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
PageRank Checkerblog-indonesia.com

Rabu, 14 April 2010

Tentang Wadukdarma dan Obyek Wisata

Bendungan Wadukdarma
WadukdarmaBagi orang yang akan bepergian menggunakan jalur  Ciamis-Cirebon atau sebaliknya, sudah bisa dipastikan akan melewati suatu tempat yang menjadi primadona Kabupaten Kuningan di sektor pariwisata. Ya, Wadukdarma. Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayan (Disparbud) Kabupaten Kuningan dalam “Kuningan The Wonderful Nature and Culture”, lokasi Wadukdarma berjarak + 47 km dari Kota Cirebon dan + 12 km ke arah barat daya dari Kota Kuningan. Lokasi tersebut termasuk berada di bawah kaki Gunung Ciremai, sekitar + 715 m di atas permukaan laut (dpl). Berhawa sejuk dan segar dengan kisaran temperatur 18-30 derajat celcius.

Di antara sekian banyak lokasi obyek wisata di Kabupaten Kuningan, Wadukdarma menduduki urutan pertama sebagai kawasan objek wisata air terluas. Klarifikasi tersebut diperkuat oleh pendapat Uba, warga Kampung Cikalong, RT. 02/01 Desa Jagara Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan yang juga salah seorang pegawai (juru ukur) bawahan mantri ukur yang dipimpin oleh Muchlas sekitar tahun 1962-1964.


Menurut keterangan Uba, luas areal Wadukdarma mencapai + 472 ha. Luas tersebut meliputi delapan  desa, yakni Desa Sakerta Timur, Sakerta Barat, Paninggaran, Cipasung, Kawahmanuk, Cikupa, Darma, dan Desa Jagara. Tetapi saat ini, mungkin karena adanya proses erosi dalam kurun waktu yang cukup lama, luas areal genangan air Wadukdarma hanya tinggal + 425 ha.

Mesjid Jum'at terdekat bagi Pengunjung
(sebelah timur Kawasan Wisata Wadukdarma)
Uba menambahkan, “di antara delapan desa, Desa Jagara-lah yang terluas sebagai daerah genangan air Wadukdarma. Kendati demikian, luasnya areal salah satu desa yang menjadi lokasi genangan air waduk, tidak menjamin nama desa tersebut dijadikan nama sebuah waduk. Seperti nama Wadukdarma ini, kalau penamaan waduk ditinjau dari segi luas areal genangan air, antara Desa Jagara dan Desa Darma, justru Desa Jagara-lah prioritas utama sebagai nama waduk.”

Ketika disinggung kenapa nama waduk tidak mengikutkan kata Jagara, "mungkin pemerintah punya pertimbangan dan pandangan lain yang sangat mendasar menyangkut penamaan waduk tersebut dan demi kemajuan di masa mendatang,” jelas Uba dengan lirih. Alasan  nyata yang memang sangat bisa dimaklumi saat ini adalah adanya sumber air dengan debit air dominan serta mengalir secara kontinyu ke waduk berasal dari mata air “Balong Darma” yang sekarang lokasi tersebut berubah  nama menjadi “Balong Keramat Darmaloka” berlokasi di Desa Darma. “Maka wajar apabila nama waduk adalah Waduk Darma,” papar Uba sambil tertawa datar.

Seorang tokoh masyarakat  yang terlahir sekitar 92 tahun silam dan juga merupakan saksi sejarah terwujudnya Wadukdarma, Abah Sukaedi, saat FD sengaja bersilaturahmi ke rumahnya di Kampung Cikalong Desa Jagara, Beliau membeberkan sejarah yang erat kaitannya dengan Wadukdarma dimulai saat Belanda menancapkan kekuasaannya di Bumi Pertiwi ini. Menurut Abah Sukaedi, sekitar tahun 1932 bangsa Belanda mulai menyusun rencana. Menginjak tahun 1938, pembebasan tanah-tanah rakyat terus dilaksanakan. Namun berhubung tentara Jepang datang, pelaksanaan pembebasan tanah tersebut sempat tertunda. Hal ini bukan berarti tidak jadi. Buktinya, di tahun 1954, Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno turun tangan meneruskan rencana pembuatan waduk terebut.

Pipa Pemasok Sumber Air PDAM
Terapung di Perairan Wadukdarma
Sejak tahun 1954 itulah, sebagi pegawai, Abah larut dalam kesibukan. Mulai dari pengukuran tanah, mengatur anak buah (pekerja) hingga menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan guna membuat bendungan. “Itu semua Abah laksanakan,” akunya bangga. Pengerjaan bendungan semasa Pemerintahan Soekarno berlangsung selama kurang-lebih tujuh tahun. Tepatnya tahun 1961, bendungan Wadukdarma diresmikan. Adapun tempat pelaksanaan “gunting pita” peresmiannya adalah di Cirebon, di Cangkol di mana kantor PU pengairan berada.

Masih menurut cerita Abah Sukaedi, seiring dengan tenggelamnya ratusan hektar tanah, ladang sumber mata pencaharian, kesedihan pun muncul mewarnai wajah para penduduk  delapan desa yang telah mendarah-daging biasa menggarap tanah untuk menghidupi keluarganya. “Sejak tanah-tanah lahan garapan mulai dibebaskan, sejak itu pula masyarakat dari delapan desa sudah dibikin kelabakan. Bayangkan saja, orang yang sudah bertahun-tahun secara turun-temurun terlena dan menikmati hasil-hasil pertanian dari tanah garapannya, tiba-tiba harus menghentikan kegiatannya tanpa menguasai suatu keahlian lain untuk bekal mencari nafkah,  coba pikir.  Pokonya, gelap-lah rasanya dunia ini,” tegas Abah Sukaedi.

Tidak berbeda dengan Abah Sukaedi, para penduduk dari desa yang lain pun merasakan hal serupa. Masa transisi ini terlalu berat sehingga membuat mereka tertekan. Apalagi ketika muncul instruksi harus bertransmigrasi, masyarakat semakin stres. Dengan berbagai macam cara (tanpa kekerasan), masyarakat bersama para kiyai menyusun strategi untuk mengantisipasi terjadinya transmigrasi. “Alhamdulillah,” puji Sukaedi,  “upaya itu berhasil,” lanjutnya, gembira.

Pemerintah mengabulkan permohonan rakyatnya, yakni mengurungkan pelaksanaan transmigrasi bagi rakyat Jagara dan ketujuh desa lainnya. Masyarakat diberi kesempatan untuk menempati daratan, daerah pasisian di sekeliling Wadukdarma dengan catatan “ikut menjaga” kelestarian lingkungan demi terciptanya Wadukdarma sebagai sumber air yang sehat dan bersih (bebas pencemaran), berdampak positif sebagai lahan untuk menggali sumber kehidupan baru, khusus bagi masyarakat Kecamatan Darma, umumnya bagi masyarakat Kabupaten Kuningan dan sekitarnya.

Awalnya Kebun Pinus

Pohon Pinus yang masih tersisa di
pinggir perairan Wadukdarma
(sebelah barat areal parkir depan)
Wadukdarma makin berkembang. Masyarakat yang hidup di pinggiran Wadukdarma pun mulai bisa beradaptasi  serta mulai bisa mengambil manfaat dari keberadaan bendungan penampung air tersebut.
Dari mulut ke mulut, cerita dan nama Wadukdarma terus menyebar, menimbulkan daya tarik serta menggugah rasa keingin-tahuan si Pendengar. Akhirnya, pada hari-hari tertentu banyak orang berdatangan walau sekedar untuk membuktikan kebenaran berita yang didengarnya. “Saat itu, daratan di sekitar Wadukdarma masih berupa kebun pinus dan arealnya pun masih belum tertata,” jelas Abah Sukaedi, “akan tetapi, sekalipun keadaannya demikian, semakin hari jumlah para pengunjung semakin bertambah,” lanjutnya.

Melihat celah adanya peluang-emas yang bisa dimanfaatkan dari para pengunjung, para pemuda setempat berinisiatif mengadakan pungutan secara alakadarnya (sukarela) bagi orang-orang yang ingin masuk menikmati indahnya alam sekitar Kawasan Wadukdarma. Rutinitas kegiatan para Pemuda tersebut rupanya menarik perhatian aparat pemrrintahan Desa Jagara. Maka, atas izin pihak kabupaten, Pemerintahan Desa Jagara saat itu sudah mempunyai sumber pendapatan Desa yang bisa dibilang cukup lumayan.

Kecuali pihak Desa, penduduk di lingkungan itupun, dengan cara usaha membuka warung-warung musiman, mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan serta mulai dapat merasakan adanya suatu jalan kehidupan baru yang menjanjikan. Namun, setelah sekian lama pengelolaan tempat rekreasi oleh pemerintahan Desa dikembang, Pemerintah Kabupaten, khususnya Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) saat itu, bekerja-sama dengan pihak PU Pengairan Wadukdarma, mengambil alih dan mengembangkan tempat rekreasi tersebut.

Perubahan-perubahan mulai nampak, kemajuan demi kemajuan mulai terwujud. Kebijakan-kebijakan Pemda Kabupaten Kuningan mulai berpihak kepada sektor pariwisata, hingga akhirnya di bawah pengelolaan  Dinas Pariwisata dan Kebudayan (Disparbud) tempat rekreasi dimaksud disempurnakan istilah namanya menjadi “Kawasan Obyek Wisata Wadukdarma” seperti yang kita kenal saat ini dan, pengelolaan serta pengembangannya sejak Januari 2012 dilanjutkan oleh Pihak PDAU-dir/fokus


Lihat Peta Lebih Besar
_____________________________________________________________
Untuk mengetahui para Pengunjung Kawasan Wisata Wadukdarma akhir-akhir ini dan dari mana mereka berasal, silakan buka Dokumentasi Pengunjung Wisata Wadukdarma karya "Fotografer Wisata Wadukdarma" sebagai pendukung situs ini. Jangan lewatkan, baca pula : "Sekilas Wadukdarma Versi Lainnya"
 

MANAGER UNIT
Obyek Wisata Wadukdarma
HP : 087 723 302 220
Head office - Telp./Fax :
(0232) 8881389

 
Kawasan Wisata Alternatif Tujuan Liburan Anda di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat - Indonesia 45562, dikelola pihak PDAU Kabupaten sejak Januari 2012