Social Icons

Danamaya-WisataDarma-TwitterTamu Wisata Darma 2014-Facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
PageRank Checkerblog-indonesia.com

Tuesday, June 15, 2010

Diam-diam Menghanyutkan

Macaca Nemestrina
"Sikap Macaca Nemestrina (Beruk)
koleksi binatang Obyek Wisata Wadukdarma
Siap menerkam bila dirinya terancam"
Wadukdarma: Diamnya binatang sebangsa kera Macaca Nemestrina (Beruk) dalam jeruji besi di Kawasan Obyek Wisata Wadukdarma kelihatan lucu dan jinak, serta sorot matanya nampak bersahabat. Namun siapa sangka bila sesungguhnya diam tersebut diam yang selalu penuh dengan waspada. Bahkan, diam dari binatang ini bisa dikatakan: Diam-diam menghanyutkan, bisa menjadi petaka bagi orang yang bertindak ceroboh.

Sebagai makhluq mulia yang sempurna, tentunya sehat lahir-batin serta sehat akal dan pikirannya, dalam menjalani hidup di dunia ini manusia tidak akan lepas dari rasa cinta-kasih-sayang sehinga saling mencintai, mengasihi dan menyayangi di antara sesamanya. Namun, rasa cinta yang dibuktikan dalam sikap dan perilaku ini ada kalanya membuat sengsara pihak yang dicintainya, bahkan petaka berkepanjangan. Ironis bukan…? Langkah awal dimulai dengan beribu janji cinta-kasih dan kata-kata sayang, kenapa akhirnya harus menjadi tragis? Bila hal itu terjadi, maka jelaslah sudah bahwa, rasa cinta dan kasih yang diucapkan hanyalah bualan belaka, hanyalah omong kosong. Dan biasanya, tong kosong memang suka berbunyi nyaring.

Cinta manusia, termasuk kesenangan yang dimiliki tidak sebatas hanya mencintai dan menyenangi sesamanya. Kalaulah mungkin, dunia pun ingin dimiliki demi tercapainya suatu kepuasan dalam hidup. Satu bukti yang bukan lagi rahasiah, kecintaan manusia terhadap dunia binatang. Menyenagi, mencintai dan memelihara binatang ternak itu sudah karuan dan bahkan pada pemeliharaan binatang ternak tertentu, pemerintah pun turun tangan memberikan bantuan kepada kelompok masyarakat di berbagai daerah, di negara kita Indonesia ini.

Dasarnya manusia, soal puas susah untuk diberi batasan. Puasnya si “A”, tidak mungkin sama dengan rasa puasnya si “B”, juga si “C” dan begitulah seterusnya. Kendati ada kata puas yang diucapkan, saya yakin hanya berlaku sementara. Dan sebenarnya, jauh di lubuk hati yang mengatakan puas itu terbersit satu rasa yang kerap bersimpangan dengan ucapannya, yakni, niat (itikad) dan pengharapan lain yang intinya tetap ingin lebih dan lebih dari apa yang telah didapatkannya. Seperti cinta tehadap binatang ternak, dibuktikan dengan cara memeliharanya. Karena disebut binatang ternak, maka tindakan pemeliharaan binatang tersebut merupakan hal yang dianggap wajar dan sudah memasyarakat. Sehingga dengan demikian, bagi kalangan tertentu, memelihara binatang tersebut rasanya sudah tidak aneh lagi dan tidak ada keistimewaannya dibandingkan dengan memelihara binatang-binatang langka. Namun, kalau sudah meningkat ke proses penangkapan dan pemeliharaan binatang liar, cinta dan kasih sayang dari seorang manusia merupakan kesengsaraan, alias petaka bagi binatang yang seharusnnya hidup bebas bersama habitatnya di hutan belantara.
 

Marilah kita tengok seekor binatang sebangsa kera yang ada di Kawasan Obyek Wisata Wadukdarma, yakni: Beruk (Macaca Nemestrina). Entah berapa tahun lamanya binatang tersebut berada di di Kawasan Obyek wisata, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, awal tahun 2007 ketika saya mulai berdomisili membuka usaha di tempat itu, seekor binatang dari family Macaca sudah terkurung di kerangkeng besi. Selain Beruk tersebut, untuk menambah pembendaharaan jenis binatang langka, pernah dipelihara juga seekor burung Elang Jawa, Kera Jawa. Bahakan konon, ada seekor ular Sanca (Piton). Karena mungkin pemeliharaannya kurang maksimal-professional, binatang koleksi di Obyek Wisata semuanya mati, kecuali Beruk (Macaca Nemestrina), sampai saat ini masih tetap bertahan walau diurus semaunya, (ma’af). Jika tak ada belas kasihan alakadarnya dari para pengunjung atau pihak warung nasi terdekat, entah bagaimana nasib hidupnya.

Sepanjang mendekam dalam jeruji besi, selama itu pula binatang yang satu ini merasakan penderitaan. Menggigil kedinginan manakala hujan turun dan menggigil kedinginan manakala musim angin barat datang. Rasa lapar yang berkepanjangan mendera perutnya, senantiasa menjadi sahabat dalam menjalani kesendirian di balik jeruji besi. Kadangkala sampai beberapa hari tak pernah ada yang memberi nasi ataupun makanan lainnya. Sepi pengunjung, otomatis tak ada makanan kecil yang dilemparkan kearahnya. Kendati banyak pengunjung, itu pun tidak berarti banyak makanan, karena mayoritas pengunjung yang menghampiri seringkali hanya berbuat usil dan jail mempermainkannya. Menerima perlakuan pengunjung seperti itu, Macaca Nemestrina tidak kelihatan mengeluh, nampak pasrah menjalani nasib apa adanya serta kerap bertingkah lucu, manja, manakala berinteraksi dengan orang yang sudah dikenalnya.

Satu hal yang menjadi catatan saya, di balik gerak-gerik kelucuan dan sikap yang bisa membuat kita iba bila memperhatikannya, tersimpan kewaspadaan penuh, menyelimuti dendam dan amarahnya. Hal itu akan terbukti ketika ada orang (pengunjung) tak dikenal baru datang, tanpa pendekatan atau memberi makanan terlebih dahulu berlagak akrab sudah berani berbuat usil. Andaikata kesan pertama kunjungan Anda membuat satwa ini kecewa dan marah, maka, selamanya kesan tersebut akan tercatat pada ingatan binatang itu, membentuk dendam kesumat. Celakanya, dendam dari Macaca Nemestrina akan terlampiaskan pada orang lain (pengunjung baru) yang belum pernah berbuat usil.

Beberapa kasus yang masih saya ingat, tindakan brutal yang langka tapi nyata dari binatang Family Macaca tersbut, pernah memangsa HandPhone (HP) pengunjung. Selama saya berdomisili di lokasi  Obyek Wisata Wadukdarma, + 10 buah HP mahal berkamera telah dikunyahnya, digigit dan dipatahkan dengan penuh emosi. Kasus terakhir yang saya tahu ketika suatu hari cuaca sedang cerah. Cuaca cerah sejak pagi memang sangat membangkitkan gairah bagi para pelaku usaha dan Petugas Pelaksana di Obyek Wisata. Begitu pun untuk para pengunjung, dampak cerahnya cuaca pagi itu menambah semangat dan kebahagiaan tersendiri, terutama bagi pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.

Memang demikianlah keadaannya, di kala pagi itu, di antara kesibukan rutinitas Petugas Pelaksana Obyek Wisata melakukan Opsih, dan juga para Pedagang (Pelaku Usaha Kecil) menata barang dagangannya, datanglah dua orang pengunjung yang hendak menikmati keindahan alam Wadukdarma. Nampaknya muda-mudi tersebut sepasang kekasih yang sudah merencanakan kepergiannya sehingga tiba di Kawasan Wisata lebih awal daripada tamu lainnya. Wajah mereka kelihatan ceria sambil bergandengan tangan kakinya melangkah, menelusuri jalan kecil dari sebelah utara jeruji besi tempat Beruk (Macaca Nemestrina) berada. Dua sejoli ini seperti kegirangan tatkala pandangan matanya tertuju pada kandang satwa langka, entah apa yang ada dalam pikiran mereka, dan entah kekuatan apa yang mempengaruhinya, tiba-tiba arah langkah kaki mereka berbelok menghampiri kandang binatang kebanggaan Obyek Wisata Wadukdarma ini.

Sang Gadis merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah HP dan langsung siap membidikkan kameranya ke arah binatang lucu penghuni jeruji besi. Namun gerakannya tertahan karena tiba-tiba sang Cowok merebut  HP dan memegang kendali, seraya beraksi seolah-olah tak mau kehilangan gengsi di mata sang Kekasih. Dia bertindak agresif layaknya sang Pemberani, jeprat-jepret memburu mangsa. Namun apa yang terjadi…, aksinya berhenti ketika tangan Macaca Nemestrina yang sudah jengkel dengan sigap merebut HP dari tangan pengincarnya. Bianatang itu murka karena dikiranya orang tertsebut akan memberi makanan tapi terlalu lama mempermaikan dirinya yang sudah lama menahan lapar. Semua di luar dugaan. Secepat kilat HP yang sedang dibidikkan tepat di muka Macaca Nemestrina telah berpindah tangan dan, bahkan sudah bersembunyi di balik kantong persiapan makanan, di bawah dagu Beruk. Cowok sang Fotografer jejadian hanya bisa bengong, rupanya belum menyadari dan tak percaya terhadap musibah yang baru saja menimpanya. Sementara sang Gadis, ia menjerit-jerit, nangis histeris, menangisi HP mahal kesayangannya rusak, patah berantakan dikunyah gigi kuat Macaca Nemestrina. Dua sejoli tak bisa berbuat banyak.


Mendengar suara gaduh, tangisan dan jeritan, karuan saja orang-orang yang sedang hanyut dalam aktivitasnya masing-masing pada berhamburan datang memburu tempat sumber suara. Setelah mengetahui apa yang terjadi, para pelaksana Obyek Wisata dibantu para Pedagang (Pelaku Usaha Kecil) lansung mengepung sang Beruk menggunakan alat-alat seadanya. Ada yang menggunakan sebatang kayu belukar, dan sesekali, orang yang sudah merasa dekat berusaha membujuknya. Namun apa daya, daripada lunak menyerah, mendapat tekanan dan ancaman seperti itu, sang Macaca Nemestrina betina  malahan nampak semakin beringas, garang, muncul sifat aslinya.

Segagah-gagahnya binatang dalam kandang, setelah beberapa lama dikerubungi tekanan dari banyak orang, akhirnya menyerah dan langsung memuntahkan HP dari dalam mulutnya. Sebuah HP mewah yang telah berubah menjadi sampah. Kalau dipikir, percuma saja melakukan pengepungan, penekanan terhadap binatang lapar yang sedang mengemil HP, toh, hasil akhir dari sebuah kerja-keras yang nyaris mencelakai seekor satwa langka, hanyalah sia-sia belaka karena memang HP telah hancur sejak gigitan pertama. Daripada menyervisnya, lebih baik beli lagi yang baru.

Dua sejoli, sepasang kekasih yang pertama datang dengan wajah ceria, riang-gembira diliputi penuh kasih sayang di anatara keduanya, batal menikmati keindahan alam Kawasan Obyek Wisata Wadukdarma. Saking kalutnya, tanpa berkata apa-apa, ucapan “terimakasih” atau apa-lah sepantasnya kepada semua orang yang telah berjuang mengambil HP-nya dari sang Beruk,  mereka langsung pulang sambil bertengkar, adu mulut saling mencaci. Maksud hati bersuka-cita di Wadukdarma, namun yang  terjadi malah berduka-cita atas kematian HP-nya.

Sementara di dalam kandang, sang Beruk Nampak masih terengah-engah kecapean, dengan pandangan mata tetap tajam, waspada penuh selidik. Sesaat kemudian, suasana kembali tenang. Orang-orang telah pada pergi meninggalkan kandang, kandang tempat diamnya sang Macaca Nemestrina yang diam-diam tapi kerap kali menghanyutkan di luar dugaan kita semua.

Kesimpulan:

Bila Anda berkunjung ke Obyek Wisata Wadukdarma ingin melihat dan memotret Beruk (Macaca Nemestrina) harap berhati-hati, jagalah keamanan kamera Anda. Jangan memotret terlalu dekat, jaga jarak agar tidak bisa dijamret tangan Macaca Nemestrina. Jangan mengganggu kalau tidak ingin diganggu. Kata pepatah: Sebaik-baik perkara adalah yang sedang-sedang saja (tidak berlebihan). Soal binatang, sejinak-jinaknya binatang, dalam keadaan tertekan dan lapar bisa melakukan pengrusakan, bertindak beringas serta garang. Termasuk manusia, bila tertekan oleh rasa lapar (lahiriah+batiniah), siapapun orangnya, pasti dia akan bertindak (melakukan sesuatu) yang bertentangan dengan hukum (Agama+Negara) jika imannya tidak kuat. Terus, celakanya manusia disebabkan beberapa faktor, diantaranya: Lupa, kebodohan, kelalaian, kecerobohan, sombong dan menyepelekan sesuatu. FD-WD

No comments:

Post a Comment

 

MANAGER UNIT
Obyek Wisata Wadukdarma
HP : 087 723 302 220
Head office - Telp./Fax :
(0232) 8881389

 
Kawasan Wisata Alternatif Tujuan Liburan Anda di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat - Indonesia 45562, dikelola pihak PDAU Kabupaten sejak Januari 2012