Social Icons

Danamaya-WisataDarma-TwitterTamu Wisata Darma 2014-Facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
PageRank Checkerblog-indonesia.com

Wednesday, July 28, 2010

Curugbangkong

Curug-Bangkong
Curugbangkong merupakan nama suatu tempat yang melengkapi kekayaan alam Kabupaten Kuningan di sektor pariwisata. Bulan Juli Tahun 2012 mengalami Proses Penataan. Tempat tersebut berada di Desa Kertawirama Kecamatan Nusaherang, suatu kecamatan pemekaran dari Kecamatan Kadugede (tahun 2001) Kabupaten Kuningan. Jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten Kuningan menuju Curugbangkong + 9 km, dari Cirebon sekitar 44 km. Kalau ditempuh dari ibu kota Kabupaten Ciamis + 63 km.

Bagi pengunjung dari arah Cirebon melewati Kota Kuningan pada posisi kilometer tersebut tadi, di sebelah kanan akan terlihat jelas sebuah plang penunjuk bertuliskan “Wisata Alam Curugbangkong + 700 m”. Sedangkan kalau dari arah Ciamis, posisi papan penunjuk tersebut akan terlihat di sebelah kiri jalan, setelah + 3 km melewati kawasan objek wisata Wadukdarma.

Untuk dapat menyaksikan dan menikmati keindahan air terjun Curugbangkong, dari jalur antar-kota dalam propinsi, kita masih harus masuk mengikuti jalan desa dengan posisi menurun. Hanya sayang, sampai saat ini, di penghujung jalan sampai ke lokasi di mana air terjun Curugbangkong berada, sepanjang + 400 m, keadaan lebar badan jalan berkisar 1,25 m. Sehingga dengan demikian, sekalipun jalan tersebut beraspal, hanya kendaraan beroda dua-lah yang bisa sampai ke depan air terjun Curugbangkong. Itupun harus ekstra hati-hati karena, di samping berbelok-belok serta turun naik, di kiri dan kanan ruas jalan tersbut ada hamparan sawah. Lumayanlah, buat uji nyali…!

“Kami pun menyadari, sempitnya sebagian jalan untuk menuju air terjun Curugbangkong merupakan salah satu kendala bagi mereka yang menggunakan kendaraan beroda empat,” kata Kepala Desa Kertawirama, Atang, ketika ditemui Penulis di ruang kerjanya.
“Berhubung sampai saat ini,” lanjutnya, “pengelolaan objek wisata alam Curugbangkong masih ditangani oleh pihak desa, untuk pelebaran jalan tentunya harus melewati proses pembebasan tanah penduduk yang berada di kanan-kiri jalan. Nah, jumlah biaya itulah, bagi pihak desa merupakan tantangan yang belum mampu teratasi. Jadi, untuk penataan lebih lanjut mengenai fasilitas objek wisata Curugbangkong, kami belum bisa berbuat banyak. Dalam hal ini, kami sangat mengharapkan adanya kerjasama pihak investor, baik dari pihak pemerintah maupun swasta yang sudi bekerjasama dengan kami, mengembangkan kawasan objek wisata alam Curugbangkong supaya lebih produktif dan potensial sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah.”

Mengambil contoh bentuk pengembangan yang erat kaitannya dengan sumber daya alam tersebut, Atang menambahkan, ”Bisa dalam bentuk pembuatan kolam renang dan adanya permainan menantang arus seperti di Owabong Purbalingga Jawa Tengah. Kami kira, tidak muluk-muluk dan tidak menutup kemungkinan hal itu bisa diwujudkan, sebab volume air dan kecepatan air mengalir di Curug Bangkong cukup deras,” tegasnya.

Puncak Gunung Ngebun

Apabila kita berhadapan dengan air terjun Curugbangkong, di sebelah kiri dan kanan terdapat bukit yang menjulang tinggi, membuat konsentrasi pandangan kita terfokus hanya ke satu titik perpaduan kaki bukit tersebut: Air terjun nan indah.
Curugbangkong memang dahsyat! Gemuruh air terjun yang sumbernya ditunjang oleh keberadaan Wadukdarma meluluhkan kalbu, membuat kita jadi sadar, betapa kecilnya kita di hadapan keindahan alam buatan sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Gemerciknya luapan air yang mengalir, menyentuh bebatuan menelusuri kali Cisanggarung, bagaikan nyanyian alam yang berusaha meninabobokan, mengusir segala jenuh dan penat pengunjung yang memperhatikannya.

“Seandainya tak terjadi longsor di kaki bukit sebelah kiri, mungkin hingga kini, kita masih bisa menyaksikan keajaiban alam puncak keramat Gunungebun (embun),” kata mantan Kepala Desa (Kuwu) Kertawirama (1999-2005), Nana Suryana, kepada Penulis di kediamannya. Cerita Nana Suryana, ketika dirinya masih duduk di bangku STM, Beliau bisa menentukan volume air terjun Curugbangkong bertambah, cukup dengan cara hanya melihat adanya kepulan uap air (kabut) yang muncul di puncak keramat Gunungebun.

Hal itu terjadi karena adanya uap air terjun yang tertiup angin, lalu masuk ke lorong gua sebelah kiri air terjun dan keluar dari mulut goa yang posisinya persis tepat berada di puncak Gunungebun. Sepintas, puncak gunung tersebut mirip kawah gunung berapi yang aktif. “Tapi kini,” kata Nana, “keajaiban alam itu tak pernah terjadi lagi,” lanjutnya, dengan nada penuh rindu campur sesal. Menyesal karena selama menjabat jadi Kepala Desa Kertawirama (1999-2005) cita-cita mengeruk longsoran dari kaki bukit yang menutup goa sebelah kiri air terjun, sumber keajaiban, tak kesampaian.

Tahun 2001-2002 dengan anggaran dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kuningan, hanya mampu membuat benteng (semacam bendungan) untuk meredam luapan air terjun supaya tak berdampak erosi yang bisa merusak keindahan alami kawasan objek wisata alam Curugbangkong. Terus, sekitar tahun 2003-an dana bantuan dari propinsi Jawa Barat melalui program P2MPD dialokasikan untuk mengeraskan ruas jalan menuju Curugbangkong sepanjang + 400 m dengan lebar 1,25 m. “Segitu pun,” ungkap Nana, “kami merasa bersyukur,” tandasnya.

Nana menambahkan, “Tepatnya tahun 2004, Bupati Kuningan, Arifin Setiamihardja, kala itu, mewakilkan ke pihak Asda, Jamaludin Noer, meresmikan Curugbangkong sebagai kawasan objek wisata alam kabupaten Kuningan.” Sebetulnya, gagasan yang dianggap cemerlang menurut Nana Suryana, usahanya untuk mempromosikan Curugbangkong ke khalayak ramai, bersama Camat Kadugede sekitar tahun 2000-an, Drs. Ali Jumena, dirinya akan mendomplengkan Curugbangkong pada ketenaran objek wisata Wadukdarma dengan cara membuat jalan pintas yaitu “tanjakan seribu langkah” yakni, dari Curugbangkong menuju perbatasan Kecamatan Nusaherang-Darma.

Menurut penelitiannya bersama Drs. Ali Jumena, memang jalan terobosan tersebut, menuju kawasan objek wisata Wadukdarma bagian timur benar-benar seribu langkah. “Kalau tak percaya, mari kita buktikan kembali,” tantang Nana Suryana.
Andai kata tanjakan seribu langkah terwujud, walau sebatas tangga-tangga yang tersusun, semacam di puncak Galunggung, Tasikmalaya sekarang, betapa asyiknya berekreasi ke Wadukdarma bisa langsung turun ke Curugbangkong sambil berolahraga, lalu istirahat sambil menikmati indahnya air terjun. Selanjutnya, kalau malas untuk kembali ke Wadukdarma melalui tanjakan terobosan seribu langkah, bisa naik ojek. Dengan sendirinya kesejahteraan rakyat Kertawirama khususnya, akan terangkat.

“Tapi sayang, gagasan tersebut sampai sekarang tak ada pihak yang menindak-lanjuti,” ungkap Nana, masygul. “Kalau dalam tanaman, upaya-upaya untuk mengembangkan kawasan objek wisata Curugbangkong seolah-olah mengalami stagnasi (mati tidak, tumbuh berkembang pun tidak).
Kendati demikian, di hari libur dan hari-hari besar lainnya suka ada pengunjung yang datang dengan tiket masuk rata-rata Rp 2.000,- perorang. Namun setelah mengalami penataan Juli 2012, menurut keterangan dari salahseorang penduduk setempat, Suryat, Harga Tiket Masuk (HTM) menjadi Rp 3.000,- perorang. Kecuali yang murni berekreasi, bagi orang-orang yang hobi mancing serta tahu bahwa pusaran tempat jatuhnya air terjun merupakan gudang berbagai jenis ikan, mereka datang lengkap dengan peralatan kailnya.

Contoh yang lainnya, untuk menyambut HUT RI setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, banyak kegiatan masyarakat/instansi yang mengadakan jalan santai dengan mengambil rute akhirnya di kawasan objek wisata Curugbangkong. Itu artinya, kegiatan tersebut merupakan salah satu bukti keantusiasan massa untuk menikmati indahnya alam Curugbangkong. FD-WD



1 comment:

 

MANAGER UNIT
Obyek Wisata Wadukdarma
HP : 087 723 302 220
Head office - Telp./Fax :
(0232) 8881389

 
Kawasan Wisata Alternatif Tujuan Liburan Anda di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat - Indonesia 45562, dikelola pihak PDAU Kabupaten sejak Januari 2012