“Jalan Lingkar Wadukdarma“ merupakan istilah sebutan nama yang saya pakai untuk menunjukkan ruas jalan baru dari ujung bendungan sebelah timur sampai barat. Karena bentuk ruas jalan yang melengkug ke arah utara menyerupai bentuk busur, maka jalan baru tersebut banyak dikatakan orang: Jalan Lingkar Wadukdarma. Padahal kalo dipikir dan dilihat kenyataannya, Jalan lingkar Wadukdarma tidak membentuk sebuah lingkaran. Tapi kenapa, sepertinya orang-orang pada setuju dengan istilah itu. Setujukah, atau tidak mau mengeluarkan pendapat?
Setelah pembangunan Jalan Lingkar Wadukdarma dianggap beres dan layak untuk dilalui kendaraan umum (bis antar kota dalam provinsi, misalnya), barulah jalan tersebut dibuka, menggantikan salahsatu fungsi ganda bendungan Wadukdarma, yakni: Sebagai jalan utama lalu-lintas darat penghubung Kabupaten Majalengnka-Kuningan ataupun sebaliknya. Keberadaan Jalan Lingkar Wadukdarma berpengaruh besar terhadap adanya perubahan-perubahan dalam ketertiban. Bukti yang sangat jelas adalah menghilangnya (berkurangnya) para pedagang kaki-lima yang mangkal di atas bendungan.












