Social Icons

Danamaya-WisataDarma-TwitterTamu Wisata Darma 2014-Facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
PageRank Checkerblog-indonesia.com

Petuah

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh Surayin terbitan Yrama Widya, 2003, istilah "Petuah" diartikan sebagai kata-kata nasihat dari orang alim, atau nasihat pelajaran Agama. Sekedar melengkapi kamus tersebut, pendapat saya, istilah "Petuah" itu baik secara lisan maupun tulisan adalah merupakan himbauan, ajakan, bahkan bisa menjadi suatu aturan yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan karena umumnya dasar petuah tersebut untuk membentuk sikap dan prilaku manusia menjadi lebih baik dalam menjalani hidup dan kehidupan. Berprilaku baik terhadap diri sendiri, keluarga dan sesamanya serta berprilaku baik terhadap seluruh makhluq lainnya, termasuk alam semesta ini.

Satu hal yang tak bisa saya tinggalkan (lupakan) dari petuah ini adalah keampuhannya sebagai obat jiwa. Dengan cara mengingat, memba-baca catatan petuah dari Guru atau Orangtua, jiwa yang lemah, kurang semangat, pesimis, serta malas bisa termotivasi dan bangkit kembali. Minimalnya, ketika kita berada pada masa-masa sulit menjalani hidup dan kehidupan, jiwa tetap bisa tenang dan tabah. Itulah yang dapat saya rasakan diantara sekian banyak keampuhan-keampuhan petuah.

Gaya bahasa petuah banyak ragamnya. Ada yang disampaikan dalam bentuk kata-kata mutiara, peribahasa, atau sya'ir dan pantun. Sedangkan yang bersumber dari Agama seperti telah kita ketahui, petuah tersebut berbentuk "dalil" naqli dan aqli, juga berbentuk hadis.

Jangan suka menghina...! Belum tentu yang dihinakan itu lebih hina daripada yang menghina!

Petuah Guru yang selalu saya ingat ketika Beliau menegur (mengingatkan) salah seorang teman saya dalam satu kelompok (team). "Jangan suka menghina...!" Begitulah katanya, "sebab belum tentu yang dihina itu lebih hina daripada yang menghina!" Teguran ini terlontar ketika kami, terutama teman saya "mencemooh" peserta lomba pidato dari kontingen lain.

Pada kenyataanya memang begitulah manusia, umumnya akan bebicara lantang dan berlaga seperti professional ketika jadi penonton. Namun bila dirinya mendapat giliran untuk tampil menjadi seorang pemain, nyaris mati-kutuk tak bisa berbuat apa-apa. Penampilannya "nol" besar tidak sesuai dengan apa yang diucapkankannya ketika dirinya masih jadi penonton.

Kasus lain yang tak bisa saya lupakan ketika ikut menghadiri undangan dari para mahasiswa KKN ke kantor Balai Desa. Kegiatan tersebut merupakan sosialisasi Program dari mahasiswa yang harus di sampaikan kepada masyarakat dengan tujuan akhir, agar masyarakat bisa menerima dan menjalankan Program tersebut sampai berhasil mendapat penghasilan tambahan.

Singkat cerita, sampailah pada acara yang dinantikan masyarakat banyak. Pembicara adalah seorang mahasiswa yang sebentar lagi menyandang gelar kesarjanaanya. Namun apa yang terjadi ketika seorang mahasiswa tesebut berada di  Podium, tangannya gemetar ketika mulai megang alat pengeras suara. Kelihatan mahasiswa tersebut berusaha menenangkan diri, dan setelah menarik napas, barulah mengucapkan salam sebagai pembuka. Suara yang keluar ketika berbicara, bernada berat dan gemetar. Kata-katanya banyak yang diulang sambil sesekali mengusap dahi dengan sapu tangan yang menyelip di saku celananya.

Materi yang disampaikan dan cara penyampaiannya terhadap masyarakat tidak optimal. Rupanya mahasiswa ini tidak punya persiapan sehingga gerogi atau jatuh mentalnya ketika harus berdiri dan berbicara di hadapan orang banyak. Ternyata walau seorang mahasiswa (kalau tak biasa) penampilannya bisa kalah oleh seorang ketua RT (Ketua Kampung) yang hanya sekolah tamatan Sekolah Rakyat (SD jaman dulu). Jadi benar adanya: "Alah bisa karena biasa." Apapun juga kalau dilatih dan dibiasakan hasilnya akan melebihi orang yang malas. 

Kata-kata Kang Yai yang selalu saya ingat: "Saat ini, boleh saja Anda merasa bangga dan lebih pintar dengan gelar ke-sarjana-an yang baru disandang. Namun, 10 tahun mendatang, Anda harus rela bersedih karena menjadi orang yang paling bodoh dan tolol jika Anda tidak berusaha belajar mengikuti perkembangan jaman." Contoh kecil dari ucapan Kang Yai tersebut, hari gini, masih banyak orang yang ngaku Sarjana tapi dirinya awan dengan e-mail apalagi membuatnya, awam dengan jejaring sosial yang banyak positifnya untuk mengembangkan sayap program kerjanya. Tidak merasa malukah dengan segudang gelar namun hampa? Pantaskah seorang Sarjana disaat internet (warnet) masuk kampung hanya bisa ternganga ketika ada yang bertanya tentang TI, hanya bilang "tidak bisa" ketika ada orang minta bantuan dibuatkan e-mail? Mungkin Anda bisa berdalih, "TI itu bukan jurusan saya," begitulah kira-kira namun, sepengetahuan orang kampung "Sarjana" adalah segalanya, pertahankanlah reputasi gelar yang Anda bangga-banggakan tersebut...! (Bersambung....)

Info terkait:  
 

MANAGER UNIT
Obyek Wisata Wadukdarma
HP : 087 723 302 220
Head office - Telp./Fax :
(0232) 8881389

 
Kawasan Wisata Alternatif Tujuan Liburan Anda di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat - Indonesia 45562, dikelola pihak PDAU Kabupaten sejak Januari 2012